Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/mus10000/public_html/templates/themza_j15_80/functions.php on line 29

Kajian Keputrian

 

Login Form



Home
Ketakutan Terbesar Muslim Crimea Pasca Referendum PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 16 April 2014 08:54

 

Oleh Kartika Pemilia L


Palu sudah diketuk, rakyat Krimea sudah memilih. Kendati hasil referendum dipandang ilegal dan tidak sah oleh para pemimpin dunia, namun Crimea memutuskan untuk berpisah dengan Ukraina dan kemudian bergabung dengan Rusia. Pada 18 Maret 2014, Rusia tetap menandatangani traktat untuk menerima Crimea menjadi wilayahnya. Di balik gonjang-ganjing politik tersebut, Muslim Crimea merasa terancam dengan kehadiran Rusia di wilayah tersebut.

Trauma terhadap penindasan rezim Uni Soviet (sekarang Rusia) terhadap etnis Tatar yang beragama Islam menjadi alasan terkuat Muslim Tatar Crimea meminta status pengungsi di Polandia setelah Rusia menguasai semenanjung Laut Hitam itu. Dilansir dari AFP, sebanyak delapan keluarga Muslim Tatar mengajukan permohonan status pengungsi pada Kamis malam (20/3) di perlintasan perbatasan dengan Ukraina di desa Medyka, Polandia selatan.

Referendum yang dilangsungkan pada 16 Maret 2014 tersebut memang menimbulkan sejumlah dilema bagi Muslim Tatar, penduduk asli Crimea. Alih-alih ikut bergabung dengan etnis Rusia pasca referendum, etnis Muslim di Crimea lebih memilih bergabung dengan Ukraina—dengan resiko kembali mengalami pengusiran seperti tahun 1944—atau keluar dari Ukraina dan memilih menjadi pengungsi di negara lain. Tidak ada pilihan yang menyenangkan, tapi itulah kenyataan pahit yang harus diterima oleh Muslim Crimea.

Dari mana asal Muslim Crimea? Menurut sejarahnya, orang-orang Crimea merupakan keturunan Muslim dari Golden Horde of Genghis Khan. Mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Turki dan merupakan penduduk asli yang mendiami Crimea. Semenanjung yang menjorok ke Laut Hitam ini adalah tanah air mereka yang sudah mereka huni sejak abad ke-13.

Muslim Crimea berjumlah sekitar 15% dari total populasi penduduk Crimea. Populasi Muslim Crimea menempati jumlah terbanyak dari seluruh Muslim di Ukraina, negara yang berbatasan langsung dengan Rusia di Timur Laut ini. Selama berada di bawah pemerintahan Ukraina dan lepas dari Uni Soviet, Muslim Crimea bisa menikmati iklim kebebasan dan kedamaian yang bagi mereka sangat langka. Jauh sebelum negara Ukraina berdiri, Muslim Crimea telah tinggal di sana selama berabad-abad, bahkan pernah menjadi negeri muslim terkuat di Eropa Timur. Wilayah ini merupakan bagian dari kekuasaan Khilafah Turki Utsmani. 

Namun, kondisi yang relatif kondusif bagi kehidupan Muslim Crimea tersebut terkoyak tatkala Soviet datang pada tahun 1922 dan berkuasa di Crimea. Pengekangan dan intimidasi menimpa Muslim Crimea. Puncaknya, pada 18 Mei 1944 penguasa komunis Joseph Stalin mendeportasi Muslim Crimea. Rezim Soviet menuduh Muslim Crimea telah berkolaborasi dengan Nazi Jerman. Saat itu Uni Soviet berada di kubu Sekutu memerangi Nazi Jerman.

Seluruh penduduk Muslim Tatar—saat itu lebih dari 200.000 orang—diangkut dalam kondisi yang mengenaskan dan diusir ribuan mil jauhnya ke wilayah Uzbekistan dan lokasi lainnya. Banyak yang meninggal  di sepanjang perjalanan maupun di lokasi pembuangan.

Pada saat itu Komunis Soviet menyita rumah maupun aset mereka , menghancurkan masjid-masjid  dan mengubahnya menjadi gudang. Sebuah masjid besar bahkan diubah menjadi Museum Atheis.

Badai pasti berlalu, setelah kesulitan pasti datang kemudahan. Setelah 69 tahun Muslim Crimea diintimidasi serta dilarang membawa peribadatan ke ranah publik, pada akhirnya mereka bisa terbebas dari kediktatoran rezim Uni Soviet ketika pada 1 Desember 1991 Ukraina memproklamirkan kemerdekaannya.

Sejak merdeka dari Soviet itulah, umat Islam Crimea dapat dengan terbuka membicarakan dan menjalankan ajaran Islam dengan bebas. Kesempatan untuk membentuk lembaga komunitas pusat muslim pun terbuka lebar untuk dapat merancang sebuah koordinasi proses proses kebangkitan kembali kehidupan beragama Islam di negeri itu yang sempat mati suri.

Pemerintah Ukraina memberi ruang kebebasan yang cukup lebar bagi Muslim di Ukraina pada umumnya. Berdasarkan data dari Wikipedia, tanggal 9 September 1992 Dewan Urusan Agama di bawah Kabinet kementerian kabinet Ukraina telah menerima pendaftaran Badan Urusan Agama Islam Ukraina (DUMA) yang menyatukan seluruh komunitas muslim di Ukraina. Pemimpin DUMA yang mengorganisir di antara komunitas muslim Ukraina dan luar negeri, dibawah pimpinan Tamin Achmed Mohammed Mutach.

Tujuan utama DUMA adalah memberikan dukungan dan tuntunan bagi kondisi yang memungkinkan umat Islam menjalankan syariat sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah. Salah satu penekanan upaya DUMA adalah mempererat tali silaturrahim di antara masyarakat Muslim Ukraina yang berasal dari beragam bangsa berdasarkan pemahaman agama yang bersih dari pemahaman yang salah termasuk tindakan ekstrimis dan tindakan negatif lainnya.

DUMA berupaya menyebarkan ajaran Islam yang benar guna melawan ideologi ektrimis yang saat ini oleh sebagian orang disematkan kepada Islam. DUMA merupakan anggota tetap dari Dewan Keagamaan dan Tempat Ibadah Seluruh Ukraina. DUMA melibatkan diri dalam berbagai konferensi dan simposium, termasuk berpartisipasi dalam pembentukan dialog lintas agama. Dari sini jelas terlihat, bahwa pemerintah Ukraina mengakomodasi hak-hak dasar umat Islam di sana.

Sebelum hasil referendum keluar, mufti Crimea Amirali-Haji Ablaev bahkan sudah memerintahkan warga Muslim agar berdoa kepada Allah swt., bersatu, dan mengatur barisan mereka dalam menghadapi masa-masa sulit yang sangat mungkin terjadi beberapa waktu mendatang. Dan seiring dengan keluarnya hasil referendum, Muslim Crimea mengambil langkah mengamankan diri dari keterpurukan untuk yang kedua kalinya. Akankah Presiden Vladimir Putin mempertimbangkan untuk melakukan rekonsiliasi dengan kelompok Muslim Crimea? Kita tunggu saja.

Dari berbagai sumber

Pernah dimuat di majalah MAFAHIM edisi 3/Maret 2014

LAST_UPDATED2
 
Fenomena Booming Shalawat dan Habib Syech PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Selasa, 15 April 2014 13:01

 

Oleh Kartika Pemilia L


Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf bersama lantunan shalawatnya menjadi fenomena beberapa tahun terakhir ini. Berawal dari kota Solo, Habib Syech memasyarakatkan shalawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mula-mula majelis shalawat pimpinan Habib Syekh hanya bergema di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, namun kini sudah merambah ke seluruh Pulau Jawa, bahkan sudah sampai ke Negeri Jiran, Malaysia.

Banyak kalangan menilai Habib Syech dikaruniai “suara Nabi Daud”. Nabi Daud terkenal memiliki suara yang amat merdu. Jika Nabi Daud tengah melantunkan puji-pujian kepada Allah, maka semesta tersihir oleh keindahan suara beliau ‘alaihissalam. Begitu pun dengan Habib Syech. Saat beliau tengah melantunkan shalawat, maka hati pendengarnya serasa diremas-remas kerinduan serta kecintaan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanpa terasa, air mata pun menetes.

Maka, terbentuklah Syecher Mania Club (SMC), sebuah wadah perkumpulan anak muda penggemar shalawat dan majelis shalawat Habib Syech. Majelis shalawat ini senantiasa dihadiri puluhan ribu orang, yang dengan khusyuk melantunkan shalawat bersama Habib Syech. Majelis shalawat Habib Syech terbukti bisa menjadi tandingan konser-konser musik pop dan sejenisnya yang hanya menyajikan hiburan kering jiwa dan tumpukan dosa. Di majelis shalawat Habib Syech tidak ada yang masuk, berjoget jingkrak-jingkrak, saling sikut-sikutan, dan bernafsu menyentuh artis berpakaian seksi di atas panggung. Singkatnya, tidak ada yang bertingkah norak dan memalukan, serta tidak ada kerusuhan massa. Polisi pun tidak perlu repot mengamankan massa yang mengamuk atau pingsan terinjak-injak.

Lebih dari itu, kumpulan massa di majelis Habib Syech senantiasa ingat dan diingatkan akan akhirat. Shalawat berisi puji-pujian serta kisah hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Habib Syech sendiri banyak menukil shalawat dari shalawat al-Baranji, ad-Diba’i, dan shalawat Burdah-nya Imam Bushiri yang sangat terkenal. Dan kini, Sholatun bissalamil mubin menjadi populer berkat suara emas Habib Syech. Shalawat tersebut kini sering menjadi penghantar selepas adzan. Maka, mari kita perbanyak shalawat agar kelak di akhirat mendapat syafa’at Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Dari berbagai sumber

LAST_UPDATED2
 
BERSHOLAWAT BERSAMA HABIB SYECH ABDUL QADIR AS-SEGAF PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Selasa, 15 April 2014 11:26

 

 

HADIRI & IKUTI "AL-IHYA ULUMADDIN BERSHOLAWAT"

HARI/TANGGAL     : SABTU, 19 APRIL 2014

WAKTU     : PUKUL 19.00 WIB - SELESAI

TEMPAT     : PONDOK PESANTREN AL-IHYA ULUMADDIN, KESUGIHAN, CILACAP, JAWA TENGAH

 
Mengapa Umat Islam Tak Boleh Menyebut “Gerhana Bulan Darah”? PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Senin, 14 April 2014 14:23

 

Oleh Abu Nida

 


Tengah malam nanti (14/4) hingga esok dini hari (15/4) akan terjadi gerhana bulan total. Bulan akan berwarna kemerah-merahan. Orang-orang Barat menyebutnya sebagai “Blood Moon” (bulan darah).

Dalam Islam, tidak ada istilah “bulan darah” dan memang sebaiknya Muslim tidak ikut-ikutan menggunakan istilah itu. Mengapa?

Islam adalah agama yang menghendaki kebaikan bagi umatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Karenanya Al Qur’an mengajarkan doa:


رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari siksa api neraka” (QS. Al Baqarah : 205)

Islam melarang umatnya meyakini sesuatu yang dapat menjerumuskannya ke dalam kesyirikan dan menghambat kebaikan. Karena dua faktor ini, Islam mengharamkan tathayyur. Yakni merasa sial lantaran ada sebuah kejadian atau hal tertentu. Misalnya seseorang yang akan bepergian kemudian melihat burung terbang ke arah kiri, lalu ia meyakini bahwa itu adalah tanda sial, isyarat akan terjadi kecelakaan atau hal buruk. Ini contoh tathayyur dan hal seperti ini diharamkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


لاَ طِيَرَةَ

“Tidak ada tathayyur” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menjelaskan dalam riwayat Abu Dawud:


الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ

”Tathayyur adalah syirik, tathayyur adalah syirik, tathayyur adalah syirik”

Sebaliknya, Islam menyukai optimisme. Rasulullah menyukai fa’l, kata-kata positif yang menumbuhkan otimisme. Beliau bersabda:


لاَ طِيَرَةَ وَخَيْرُهَا الْفَأْلُ . قَالَ وَمَا الْفَأْلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ

”Tidak ada ‘thiyarah, dan sebaik-baiknya adalah fa’l.” Para sahabat bertanya, “Apa itu fa’l?” Beliau menjawab, “Kalimat baik yang didengar oleh kalian” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam praktiknya, Rasulullah mengganti nama dan istilah negatif yang dapat mengantarkan seseorang pada tathayyur menjadi nama dan istilah positif yang menumbuhkan optimisme dan doa. Beliau mengganti nama ‘Ashi (pendosa) menjadi Abdullah. Beliau mengganti nama Huzn (sedih) menjadi Sahl (mudah). Beliau mengganti nama Zahm (repot) menjadi Basyir. Beliau mengganti nama Ghawi (sesat) menjadi Rusyd (lurus).


Pun, saat beliau melewati beberapa alternatif jalan menuju tujuan yang sama, beliau memilih nama jalur yang positif. Misalnya saat menuju Khaibar untuk berperang, beliau dihadapkan pada empat jalan, yakni Huzn (kesedihan), Syasy (kacau), Hathib (sial), dan Marhab (selamat datang). Maka beliau memilih melewati jalan Marhab.

Demikianlah, jika orang-orang Barat dan sejumlah media menyebut gerhana seperti yang akan terjadi tengah malam nanti hingga esuk dini hari dengan “blood moon”(bulan darah), cukuplah umat Islam menyebut gerhana bulan atau gerhana bulan merah. Istilah “blood moon” (bulan darah) sendiri, oleh sebagian orang Barat diidentikkan dengan hal negatif atau tanda datangnya bencana, bahkan pertanda hari kiamat. Hal ini bertentangan dengan ajaran Islam yang mendudukkan gerhana secara ilmiah sebagai tanda kekuasaan Allah, bahkan tidak boleh dikaitkan dengan kematian atau kehidupan seseorang.


إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ

"Sesungguhnya matahari dan bulan itu adalah dua tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari dan bulan itu bukanlah karena kematian atau kehidupan seeorang. Maka jika engkau melihatnya, berzikirlah kepada Allah" (HR. Bukhari dan Muslim)


Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]


 

Sumber: http://www.bersamadakwah.com/2014/04/mengapa-umat-islam-tak-boleh-menyebut.html

LAST_UPDATED2
 
Dengan Islam Kupinang Cinta PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Senin, 14 April 2014 00:33

 

Oleh Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi



“Ketika kau terpikat cinta, Islamikanlah dia. Ketika sayapnya merengkuhmu, serahkanlah dia pada Al-Qur’an. Jadikanlah virus yang tersembunyi di balik sayapnya dan vaksin di hatimu.


Seumpama kita sesak napas terdekap olehnya, Al-Qur’an akan melapangkan kita, hingga kita menjadi sabar dan tegar. Dan kemudian, Allah akan menyinari pelayaran cinta kita dengan cahaya-Nya, hingga kita siap menjadi penyelam suci yang memancarkan kekudusan Tuhan.”


Kita tidak pernah mengerti, bagaimana cinta bisa hadir dalam diri. Cinta serasa datang begitu saja, tanpa aba-aba, tanpa rencana matang, lantas dengan polos cinta mengetuk pintu hati kita memberi kabar yang membuat kita kelu tak tentu arah.


Namun, makna cinta yang tersimpul dari kajian psikologi selama ini, telah menghadapkan kita pada dua jalan: Jalan kedewasaan ataupun gairah, serasa tidak ada Islam di dalamnya. Karena itu Freud pernah berujar bahwa libido adalah roda yang menggerakkan jati diri.


Selain itu, dengan triangular of love-nya, Sternberg pun mengalami benturan. Rasa-rasanyaTriangular of Love ala J. Sternberg belum mampu menjelaskan konsep cinta antara anak dan orangtuanya, adik dan ayahnya. Sebab pada esensinya Konsep cinta Sternberg mengacu kepada cinta kepada pasangan dan komitmen mempertahankannya, belum lah menyertakan makna keislaman yang mendalam.

 


Cinta Dalam Islam

Sekarang problemnya adakah payung ilmu yang bisa menahan arti cinta secara menyeluruh. Apakah ada penjelasan cinta komprehensif dan bisa dibaca dari segala arah bagi kita sebagai umat muslim? Jawabannya? Mari kita lihat bagaimana Islam sebagai agama kita menjelaskan tentang tauhidi makna cinta yang amat mendalam.


Kata cinta dalam Al Qur’an disebut Hubb (mahabbah) dan Wudda (mawaddah), keduanya memiliki arti yang sama yaitu menyukai, senang, menyayangi.

Sebagaimana dalam QS Ali Imron : 14 “Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (syurga).” Dalam ayat ini Hubbadalah suatu naluri yang dimiliki setiap manusia tanpa kecuali baik manusia beriman maupun manusia durjana.


Adapun Wudda dalam QS Maryam : 96 “ Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal sholeh, kelak Allah yang maha pemurah akan menanamkan dalam hati mereka kasih sayang.” Jadi Wudda(kasih sayang) diberikan Allah sebagai hadiah atas keimanan, amal sholeh manusia.


Dipertegas lagi dalam QS Ar Rum: 21 ketika Allah berfirman, “ Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah ia menciptakan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”


Dalam ayat inipun Allah menggambarkan ‘cenderung dan tentram’ yang dapat diraih dengan pernikahan oleh masing-masing pasangan akan diberi hadiah (ja’ala) kasih sayang dan rahmat.


Dalam fil gharibil Qur’an dijelaskan bahwa hubb sebuah cinta yang meluap-luap, bergejolak. Sedangkan Wudda adalah cinta yang berupa angan-angan dan tidak akan terraih oleh manusia kecuali Allah menghendakinya, hanya Allah yang akan memberi cinta Nya kepada hamba yang dkehendaki-Nya.


Allah yang akan mempersatukan hati mereka. Walaupun kamu belanjakan seluruh kekayaan yang ada di bumi, niscaya kamu tidak akan mendapatkan kebahagiaan cinta jika Allah tidak menghendakiNya. Oleh karena itu terraihnya cinta—wudda pada satu pasangan itu karena kualitas keimanan ruhani pasangan tersebut. Semakin ia mendekatkan diri kepada sang Maha Pemilik Cinta maka akan semakin besarlah wudda yang Allah berikan pada pasangan tersebut.


Cinta inilah yang tidak akan luntur sampai di hari akhir nanti sekalipun maut memisahkannya, cinta atas nama Allah, mencintai sesuatu atau seseorang demi dan untuk Allah.

 


Problematika Cinta

Kita mungkin pernah sama-sama merasakan, ada suatu fase dalam hidup kita saat dimana pikiran, hati, kaki, tangan, dan jiwa kita ditentukan oleh cinta, bagaimana segala kebahagiaan itu ditentukan dari kesuksesan cinta dalam balutan standar manusia. Pada konten ini kemudian cinta berubah menjadi sayembara yang kerap melontarkan kata-kata penjara jiwa seperti “Hidupku akan mati jika diputus oleh kekasih” atau “Kita tidak bisa hidup tanpa kekasih”. Sedangkan, remaja kerap berkata, “Jika mempunyai kekasih, belajar akan lebih termotivasi”.Malah bisa jadi ada sumpah serapah yang terlontar kepada laki-laki atau perempuan yang telah mengkhianati cinta? Dan sebelum itu ketika saya kuliah, ada kawan berujar serius .”Akhi, pacaran adalah keniscayaan untuk merasakan cinta. Lo harus nyoba, kalau memang mau paham cinta”.


Saat itu saya tertegun, meretas senyum kepadanya, dan melambungkan mata ke atas untuk mengeri arti cinta sejati. Tanpa disadari kita sudah meletakkan sesuatu yang pasti kepada manusia yang lemah, individu yang tak tahu masa depan itu sendiri.


Ketika kita mulai menjajakan cinta dan pada akhirnya kita gantungkan harapan cinta itu kepada manusia, pasti yang ada kekecewaan, karena kemampuan manusia terbatas. Ia tidak bisa memastikan, ia tidak bisa menjadi penentu pasti, manusia tetaplah manusia dengan segala kelemahannya. Adagium, sepandai-padaninya tupai melompat akhirnya jatuh juga, tidak bias makhluk, dan bukan sekedar pepatah dalam rangka mengingatkan ikhtiar manusia, karena pada kenyatannya, Allah telah menggariskan kemampuan manusia jauh sebelum adagium itu hadir. Sehubungan ini Allah SWT berfirman:

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”(QS. An-Nisa, 28).

“Allah telah menciptakan kalian lemah, kemudian menjadi kuat, lalu setelah kuat kalian menjadi lemah dan tua.” (QS. Rum, 54).


Masih banyak ayat lainnya yang menjelaskan hal serupa, mirip, dan memiliki kesamaan. Bahkan jauh melompat dari kedua ayat di atas, pada momentum ayat yang lainnya, Allah terang-terangan mengidentifikasikan manusia dalam keadaan yang begitu rentan terhadap hati. Dalam surah ke 70 ayat 19, Allah berfirman: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir."


Tidak berakhir disitu, kemudian Allah menjelaskan lagi perihal makhluk hidup ini yang akan membuat kita terangsang untuk lekas mengintropeksi diri, muhasabah, dan kembali kepada khittah kehidupan cinta, yakni firman yang berbunyi selang dua ayat berikutnya, “dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”.


Problematika cinta manusia, sudah jauh di lukiskan dengan amat baik oleh Ibnu Qayyim. Dikaji mendalam oleh Imam ghazali, dan mundur ke belakang di tulis dengan amat menyentuh oleh Ibnu Taimiyyah. Tentu kapasitas penulis teramat jauh dengan kemampuan ulama besar itu yang kerap dikaji pada tiap malam di sebuah mesjid indah di Depok, dengan kitab fenomenal Tazkiyatunnufus.


Ada banyak varian dari timbulnya problematika cinta, salah satunya bagaimana kita salah mengelola qalbu dalam cinta. Qolbu adalah wilayah yang urgen dalam kehidupan, hingga Rasulullah pernah mengeluarkan hadisnya yang menyentuh,

“Ketahuilah sesungguhnya dalam jasad ada segumpal darah. Jika ia baik seluruh jasad akan baik pula. Jika ia rusak maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.”


Banyaknya manusia yang terpuruk dalam cinta dan dikuasai hawa nafsu tak lepas karena kita mengingkari kesucian qolbu, hati, dan nilai-nilai fitrah dalam diri. Wilayah sensitif ini menjadi lupa untuk kita perhatikan karena sudah demikiannya kita jauh dari Allah, dan merasa diri sombong dengan meletakkan ayat-ayat ilahi sebagai prioritas kedua dalam mengarungi cinta.Naudzubillah.

 


Kekuatan Hati

Saudaraku, percayalah, hati yang cemas, kikir, gelisah, kotor, dan merasa lelah menjalani hidup, dikarenakan kita sudah meletakkan standar-standar duniawi sebagai syarat kebahagiaan hakiki. Kita rela menyiksa hidup dengan syarat-syarat wahn yang sebenarnta tak bisa kita lakukan. Kalau kita mau jujur saja, secara hakiki, kesemua itu malah jauh dari sumber kebahagiaan yang sebenarnya, yakni ketenangan batin bagaimana kita selalu dekat dengan Allah.


Saudaraku, Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu pernah berkata bahwa “Tidak sempurna keselamatan qalbu seorang hamba melainkan setelah selamat dari lima perkara: syirik yg menentang tauhid bid’ah yang menyelisihi As-Sunnah, syahwat yg menyelisihi perintah kelalaian yg menyelisihi dzikir dan hawa nafsu yang menyelisihi ikhlas.” Hamba yg memilikiqalbun salim akan selalu mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia yg mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkan tempat di surga.


Saudaraku, salah satu kunci kenyamanan hidup dimulai dari bagaimana kita mampu membangun suasana hati. Jika hati kita ikhlash dan bersih dengan penuh ketawadhuan, sesuatu yang kita pandang hina jadi sedemikian mulia, yang tadinya kita pandang kurang ternyata teramat cukup, sesuatu yang kita lihat kecil dan tak berdaya berubah jadi sangat besar dan penuh makna, dan apa yang kita lihat sedikit, dan ternyata terlampau banyak. Dan itu di mulai dari hati.


Sekarang apakah kita mau melepaskan segala ego, kesombongan, dan sebongkah egoisme besar dalam diri kita. Kini, apakah kita juga rela berhenti sejenak melepas atribut keduniawian kita untuk menghadap one by one dengan Allah dengan berkata jujur di depan Singgasana-Nya. Jika kita berani, rasakanlah ada aliran kesejukan dan ketenangan yang sebelumnya tidak kita rasakan. Ia menetramkan. Ia pun mampu merubah paradigma kita tentang cinta, hidup, dunia, ujian, psikologis, dan sebagainya.

Jika tidak itu kembali kepada diri pribadi, apakah kita masih ingin bertahan lama pada topeng-topeng yang khusus diciptakan Allah untuk menguji keimanan kita? Demi Hidup yang digenggam olehNya, peracayalah itu kembali kepada kita.


“Maka apabila hari kiamat telah datang. Pada hari ketika manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya. Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada tiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguh nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabb dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu maka sesungguh surgalah tempat tinggalnya.” (An Naziat ayat 34-42). Allahua’lam.

 


Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi adalah wartawan Islampos.com dan dosen Psikologi Dakwah di Ma’had Utsman bin Affan.

 

LAST_UPDATED2
 
« MulaiSebelumnya12345BerikutnyaAkhir »

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Jadual Sholat

 

Pingin Ngitung Zakat ?

clik disini !

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini20
mod_vvisit_counterKemarin104
mod_vvisit_counterMinggu Ini20
mod_vvisit_counterMinggu Lalu1131
mod_vvisit_counterBulan Ini2262
mod_vvisit_counterBulan Lalu1523
mod_vvisit_counterJumlah450004

We have: 2 guests online
Your IP: 54.205.221.22
 , 
Today: Apr 20, 2014
Visitors Counter

Media Chat

Latest Message: 1 Tahun, 1 Bulan ago
  • Vibrasphere : Fasting comes after feasting
  • Furtwangler : Burn not your house to rid it of the mouse
  • Dotmatic : A little body often harbours a great soul
  • guest_7219 : sdfsdfsdf
  • guest_7219 : sdfsdfsdf
  • guest_7219 : dsfsdfsdf
  • cruincchumer : One of several natural cures for acne cases are the effective use of tea shrub essential oil or possibly a merchandise made up of herbal tea shrub oils. It is actually a natural anti - biotic helping to destroy any bacteria or microbe infections onto the skin surface. A drop or two over a cotton tennis ball dipped in witch hazel placed on the facial skin is what is needed. When purchasing commercial real - estate, you should make sure that you plus your possessions are guarded. How are the resources
  • Haphmearpemi : When you suffer with joint disease home tasks can be tough. When cleansing the bath tub or shower, damp the location initially, dust comet or cleanser within the h2o. Hold out a short while and cleanup with a mop. No twisting, no discomfort! There exists several kind of joint disease and it is very important determine what you possess in order to commence appropriate treatment method. If you locate this truth beneficial, then read this report mainly because it contains a lot more helpful advice
  • same day loa : = - OO, cash loans no credit check same day loans «link» cash loan uk 5la7sx, payday advances tfs loans.
  • Foniaindize : Stress the sharpness of your cheekbones by applying a shade of powder blush that may be a single tone much deeper than your regular cheek shade item. Using a blush brush, dab on the area in the powder from the hollows of your cheeks just under the cheekbones. Get rid of excess powder, then match a circular movements. Take into account employing a legal professional to assist you. The laws surrounding personal individual bankruptcy can be complicated at best and puzzling and convoluted at most de


feed-image Feed Entries


Dijalankan dengan Joomla!. Designed by: free joomla themes  Valid XHTML and CSS.